Minggu, 29 Desember 2013

Tahun Baru : Momentum Perbaikan Diri

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT. (Imam Turmudzi) berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan, dan makna sabda Rasul SAW ( دان نفسه ) adalah ( حاسب نفسه في الدنيا قبل أن يحاسب يوم القيامة ) ‘orang yang menghisab (mengevaluasi diri) di dunia sebelum dihisab pada hari akhir.’
Dan diriwayatkan dari Umar bin Khatab ra beliau berkata, ‘hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia. Dan diriwayatkan pula dari Maimun bin Mihran bahwa ia berkata, seoarng hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya.

Urgensi Muhasabah
Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits diatas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khatab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.
1.      Mengenai muhasabah, Umar ra mengemukakan :
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kaliau untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
2.      Sementara Maimun bin Mihran ra mengatakan :
‘Seorang hamba tidak diakatan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisabnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.
Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi. 
3.    Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan dating menghadap Allah SWT dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an : “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam/ 19 : 95)
Setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan yang telah dilakukannya secara sendiri-sendiri. Dan seringkali manusia melupakan hal ini, sementara semakin hari semakin dekat antara dirinya dengan hisab tersebut. Allah SWT berfirman : “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiya’/ 21 : 1).

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi (Dievaluasi)
Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai & sukses ( الكيس ) sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits di atas, diantaranya yaitu :

1. Aspek Ibadah ( الجانب التبعدي )
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini; ‘Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.’ (QS. 51 : 56). Artinya ibadah merupakan tugas & pekerjaan utama manusia dalam menjalani kehidupannya.
Oleh karenanya, sepatutnya aspek ibadah menjadi perhatian utama evaluasi bagi manusia. Evaluasi aspek ibadah ini, mencakup dua hal ; ibadah yang wajib dan ibadah yang sunnah.
a. Ibadah wajib.
Ibadah wajib adalah ibadah yang tidak bisa tidak, harus dikerjakan oleh setiap muslim. Minimal sekali adalah ibadah yang terdapat dalam rukun Islam; shalat, puasa, zakat dan juga haji. shalat berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW merupakan perkara yang pertama kali akan dihisab oleh Allah SWT pada hari akhir ;
Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari seroang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia beruntung dan sukses. Namun jika shalatnya fasad (rusak/ cacat) maka sungguh ia akan menyesal dan merugi. (HR. Nasa’i)
Dalam hadits lain tentang muflis (orang yang bangkrut), dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa orang yang muflis didatangkan kehadapan Allah SWT dengan amalan shalat, puasa dan zakat, namun juga membawa ‘dosa’ suka mencela, menuduh, memukul, memakan harta orang lain dsb:
‘Orang yang bangkrut dari umatku di hari kiamat adalah orang yang datang dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) mencela kehormatan orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain dan memukul orang lain.(HR. Muslim)
Hadits di atas menggambarkan bahwa pada hari akhir kelak, yang pertama kali dimintai pertanggung jawaban adalah ibadah-ibadah fardhu terlebih dahulu, seperti shalat, puasa dan zakat. Baru kemudian setelah itu amaliyah-amaliyah yang lain. Belum lagi hadits-hadits lain yang menggambarkan tentang urgensi ibadah-ibadah fardhu.
Kaitannya dengan muhasabah, bahwa setiap musim harus berusaha untuk meningkatkan amal ibadah fardhunya. Mulai dari niat, tatacara, pelaksanaan, penghayatan, pemberian dampaknya dalam kehidupan, kontinyuitas dsb. Peningkatan tersebut harus didasarkan pada evaluasi dirinya atas ibadah fardhu yang telah dilakukannya. Apa kekurangan & kelemahan dalam pelaksanaannya. Apa pula faktor-faktor yang selama ini dapat meningkatkan kualitas ibadah tersebut, dsb.
Pada intinya perlu dijaga, agar jangan sampai amaliyah ibadah fardhu ini menjadi berkurang dan memiliki cacat dalam pelaksanaannya. Karena cacatnya amaliyah ini, akan berdampak pada cacatnya amaliyah lainnya. Sehingga peningkatan pada aspek ini sangat mutlak diperlukan.
b. Ibadah sunnah
Ibadah sunnah juga tidak kalah pentingnya dengan ibadah fardhu. Karena ibadah sunnah akan menjadi penyempurna bagi ibadah fardu. Bahkan ulama mengatakan bahwa salah satu indikasi kesempurnaan keimanan seorang mu’min adalah kelanggengannya dalam melaksanakan ibadah sunnah.
Rasulullah SAW sendiri memberikan porsi dalam aspek ini dengan begitu besarnya. Perhatikan saja sebagaimana yang diakatakan Aisyah, bahwa beliau SAW shalat malam hingga kedua kakinya bengkak-bengkak. (HR. Bukhari Muslim)
Kemudian bagaimana beliau berpuasa sunnah, dzikrullah, tilawah Al-Qur’an, infak shadaqah, berbuat ihsan, dsb. Kesemuanya menggambarkan betapa aspek ini sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW dan juga para sahabatnya.
Evaluasi dalam ibadah sunnah sangat penting, karena terkadang karena sifatnya yang hanya ‘sunnah’, seringkali pelaksanaannya terabaikan. Sementara urgensi ibadah sunnah ini sangat signifikan dalam peningkatan ketakwaan dan ketaqurruban seseorang kepada Allah SWT serta dalam menjaga keistiqamahan. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW pernah bersabda:
‘Segeralah melakukan amal shaleh, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yagn sangat gulita. Ketika itu seseorang beriman pada pagi hari, sementara pada sore harinya ia kufur kepada Allah SWT. Dan pada sore hari seseorang beriman, sementara pagi harinya ia kufur kepada Allah SWT. Ia menukar agamanya demi sedikit keuntungan duniawi.” (HR. Muslim)
Secara tersurat hadits ini menggambarkan mengenai sifat dari amal shaleh (yang unsur terpentingnya adalah ibadah sunnah), akan menjaga keimanan, terhindar dari fitnah serta menjaga keistiqamahan. Karena tantangan & fitnah di ‘luar’ demikian besarnya. Sesuatu yang haq, bisa diputarbalikkan menjadi seolah-olah batil, demikian juga sebaliknya.
Dari sini tampak jelas, urgensitas dari ibadah sunnah tersebut. Karena ‘cacatnya’ perhatian pada ibadah sunnah, akan berakibat pada hilangnya ‘kestabilan’ iman, mudah terperdaya dengan fitnah, bahkan terseret pada jurang kehinaan (na’udzubillah min dzalik).
Sektor terpenting dari ibadah sunnah yang perlu dievaluasi diantaranya adalah pada aspek qiyamul lail, shalat dhuha, shaum sunnah, tilawatul qur’an, dzikrullah, infaq shadaqah, dzikrul maut, dsb. Sedangkan bentuk evaluasinya sama sebagaimana evaluasi pada ibadah ibadah fardhu.

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki ( الجانب العملي والتكسبي )
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya & kemana dibelanjakannya & ilmunya sejauh mana pengamalannya?’ (HR. Turmudzi)
Hadits di atas menggambarkan tentang akibat dari melalaikan unsur perolehan harta. Bahwa seseorang tidak akan bergerak kedua tapak kakinya di akhirat kelak, hingga ia ditanya tengan 5 hal, diantaranya tentang sumber penghasilannya. Senada dengan hadits tersebut, Allah SWT sesungguhnya telah mewanti-wanti agar jangan seseorang memakan atau mencari harta dengan cara yang bathil:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. Annisa/ 4 : 29)
Imam As-Suyuti ketika menjelaskan tentang memakan harta dengan cara batil, beliau menafsirkannya dengan ( بطريق غير مشروع مخالف حكم الله تعالى ) ‘dengan cara tidak sesuai dengan syariat dan bertentangan dengan hukum Allah SWT’. Artinya segala macam bentuk usaha, yang substansi pekerjaannya, cara pelaksanaannya, mekanismenya dan sistemnya tidak syar’i dan bertentangan dengan hukum Islam, maka itu adalah batil.
Pada intinya, semua pekerjaan dan sumber penghasilan yang telah didapatkannya, harus dievaluasi kembali. Apakah semuanya sudah jelas kehalalannya? Ataukah masih terdapat hal-hal yang berbau syubhat dan keharaman?
Jika dalam evaluasi terdapat satu sumber penghasilan yang mengandung keharaman, maka harus segera ditinggalkan, kendatipun besarnya penghasilan dari aspek tersebut. Misalnya dari bunga bank, investasi ribawi (obligasi, pasar uang, pasar modal non syariah), MLM yang tidak sesuai dengan syariah, klaim dari asuransi non syariah, pemberian yang terkait dengan jabatan & kedudukannya, dsb.

3. Aspek Kehidupan Sosial Keislaman ( الجانب الحياة الإجتماعية الإسلامية )
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits :
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’
Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya.
Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.
Oleh karenanya, hendaknya aspek ini dievaluasi. Bagaiamana selama ini kita bersosialisasi dengan masyarakat, bergaul dengan tetangga, beraktivitas dengan teman kerja, berakhlak di jalan raya, dsb? Jika terdapat aib atau cacat di sana, maka perbaikilah.

4. Aspek Da’wah ( الجانب الدعوي )
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek da’wah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu da’wah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang da’wah ini jika dibreakdown dalam setiap sektor, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi da’wah dalam bidang da’wah ‘ammah, evaluasi da’wah dalam bidang siyasi, evaluasi da’wah dalam bidang iqtishadi, dsb?
Pada intinya, da’wah harus dievaluasi, agar harakah da’wah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai da’wah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi da’wah yang sama-sama kita lakukan : Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf/ 12 : 108)

Penutup
Evaluasi dapat dilakukan setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, tri wulan, smeseter, tahunan, lima tahunan, sepuluh tahunan, dua puluh tahunan, dua puluh lima tahunan, dan seterusnya tergantung kebutuhan. Yang terbaik adalah evaluasi dalam segala kesempatan dimana kita dapat mengevaluasi.
Imam Syahid Hasan Al-Banna menyarankan agar kita mengevaluasi secara harian terhadap amal ibadah yang dilakukan secara harian pula. Karena diantara hikmahnya, agar setiap amal harian kita terstruktur dengan baik dan agar keesokan harinya kita bisa beramal lebih baik dari yang diamalkan hari ini atau hari kemarin. Namun evaluasi harian saja tidak akan cukup, tanpa adanya evaluasi pekanan. Evaluasi pekananpun tidak akan sempurna tanpa evaluasi bulalan. Dan evaluasi bulanan juga tidak akan berarti banyak tanpa evaluasi tahunan.
Evaluasi akan menentukan kembali arah yang akan dituju. Evaluasi juga akan membentuk seperti apa kita akan menjadikan diri kita. Dan evaluasi juga akan menjadikan format hidup kita lebih teratur dan pastinya lebih baik. Akhirnya marilah kita mengevaluasi masing-masing diri kita sendiri. Allah SWT berfirman “Dan untuk yang demikian itu, hendaklah orang-orang saling berlomba.” (QS. Al-Mutaffifin/ 83 : 26)

Wallahu A’lam Bis Shawab
By. Rikza Maulan Lc., M.Ag

Sumber: 
http://www.eramuslim.com/peradaban/tafsir-hadits/nilai-muhasabah.htm#.UsC870pZi3o

Cooking "Bolu Kukus"




BAHAN :

6 butir telur 
250 gram gula pasir 
275 gram tepung terigu 
1 sdt vanili bubuk 
200 ml santan kental  
3 pewarna makanan secukupnya dan sesuai selera 
1 sdt ovalet 
loyang bulat diameter 25 cm, alasi kertas roti dan dioles margarin 



CARA MEMBUAT KUE BOLU LAPIS KUKUS :

Kocok telur dan gula pasir hingga rata dan mengental
Masukkan tepung terigu, vanili dan santal kental, aduk hingga rata
Bagi adonan menjadi empat bagian, masing-masing diberi pewarna sesuai selera
Tuang adonan pertama, kukus hingga 10 menit, angkat lalu tuang adonan berikutnya lalu kukus, terakhir kukus selama 15 menit atau hingga matang, angkat. 
Siap dihidangkan dengan potongan sesuai selera.

RESENSI BUKU TERE LIYE "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin "



“Bekerja keras namun selalu merasa cukup, mencintai berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterima kasih,” begitu pesan beliau tentang sebuah hidup yang sederhana. Seperti novel ini ditulis dengan sederhana, namun bisa menjadi karya yang luar biasa.” 

Cerita ini berawal dari seorang gadis kecil bernama Tania yang berumur 10 tahun tertusuk paku payung saat sedang mengamen bersama Dede adiknya yang berusia 6 tahun. Mereka bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi malaikat bagi keluara Tania, memberikan kasih sayang, perhatian, dan janji masa depan yang lebih baik. Untuk pertama kalinya Tania merasa cemburu pada Tante Ratna, pacar seseorang yang menjadi malaikatnya. Ternyata Tania telah jatuh cinta kepada seseorang itu yang bernama Oom Danar. Perasaan itu terus tumbuh. Ketika Tania tinggal seminggu lagi untuk mencapai angka 13 tahun, Dede 8 tahun, dan seseorang itu 27 tahun, ibunya meninggal. Setelah itu Tania bersekolah di Singapura selama 6 tahun karena beasiswa yang diraihnya. Kado liontin yang diberikan seseorang itu kepada Tania menjadi awal sebuah teka-teki yang membuat Tania semakin jatuh cinta meskipun dia tidak berani mengungkapkanya. Namun, tiba-tiba perasaan itu bagai beribu-ribu anak panah yang menghujam hati Tania. Pedih dan menyakitkan. Ketika dia baru lulus dengan predikat terbaik, malaikatnya itu memutuskan untuk menikah dengan Tante Ratna. Daun yang jauh tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari pohonnya. Saat potongan teka-teki itu terungkap di bawah pohon linden, semua itu telah terlambat. Akhirnya, hanya ada hati yang terluka karena cintanya yang tak pernah mampu mengungkap kejujuran. Novel ini cukup membuka mata kita bahwa cinta tak pernah mengenal usia dan cinta butuh suatu kejujuran sekalipun pahit rasanya harus kita katakan sebelum akhirnya cinta itu justru menyakiti orang-orang yang kita sayangi. 

Novel ini dibuat seperti teka-teki pada alur cerita dan pada nama tokohnya, sehingga membuat pembacanya penasaran untuk terus membaca novel ini sampai selesai. Meskipun begitu, alur campuran yang digunakan kadang cukup membuat pembacanya menjadi cukup kesulitan. Bagian akhir cerita yang tidak digambarkan secara jelas juga membuat pembacanya menafsirkan ending yang berbeda-beda sesuai kemauannya. Gaya bahasa yang digunakan dalam penulisan novel ini meski terkesan berlebihan namun cukup menarik. Contohnya pada kalimat ”Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu, tumbuh satu langsung kau pangkas, bersemi satu langsung kau injak, menyeruak satu langsung kau cabut”. 

Karya Tere Liye ini memberikan pemahaman kepada kita khususnya remaja saat ini, bahwa cinta itu tak pernah mengenal usia dan butuh sebuah kejujuran. Kita tidak boleh membenci orang yang telah membuat kita jatuh cinta kepadanya meskipun kita telah tersakiti karena Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. 

Judul Buku : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin 
Pengarang  : Tere Liye 
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama 
Terbit         : Juni, 2010 
Tebal Buku : 264 Halaman 

By: http://azzarwilliam.blogspot.com/2012/11/resensi-novel-daun-yang-jatuh-tak.html

YAYA COLLECTION

Masih belajar...#kerajinan flanel (felt)

 











TAHUN BARU




Oleh Fatudin Ja’far

Ada yang sangat memprihatinkan setiap kali pergantian tahun baru masehi tiba. Keprihatinan itu ialah disebabkan mayoritas masyarakat Muslim di negeri ini semakin larut dan semakin menikmati berbagai upacara dan pesta menyambut tahun baru.
Berbagai aktivitas dirancang sejak dari malamnya sampai waktu mid night tiba. Puluhan milyar rupiah dibuang dan dibakar melalu pesta kembang api. Berjam-jam waktu dihabiskan hanya sekedar untuk bergembira ria yang semu. Jalan-jalan dan tempat-tempat lapang serta pantai dipenuhi jutaan manusia. 

Sambil membawa anak yang masih bayi sekalipun, mereka siap menghabiskan malam tahun baru di jalan dan terjebak kemacetan luar biasa.Bahkan di tengah dinginnya udara seperti daerah puncak dipadati ribuan kendraan roda empat dan dua, sehingga mengakibatkan macet panjang dari Cianjur sampai Ciawi, Bogor. Saat mereka lelah, mereka mencari tempat beristirahat termasuk masjid-masjid yang ada di sepanjang jalan di mana mereka terjebak kemacetan. Saat waktu sholat subuh tiba, mereka tertidur nyenyak keletihan dan tak mampu bergerak untuk shalat subuh, atau memang tidak ada lagi keinginan shalat, padahal mereka sedang berada di dalam masjid.

Belum lagi mereka yang melakukan pesta mabuk-mabukan sehingga tak jarang mengakibatkan tabrakan di jalan dan kericuhan di tempat-tempat pesta pora sehingga aparat kepolisian harus berkerja ekstra dengan ribuan prajuritnya untuk menjaga keamanan.

Tahun ini muncul satu fenomena baru yang mengagetkan, yakni banyaknya masyarakat yang menyalakan kembang api dan petasan sehingga hingar bingar malam tahun baru bukan hanya di tempat-tempat keramaian, akan tetapi sudah menyerang masuk ke komplek-komplek perumahan dan perkampungan. Sepertinya tak ada rumah tanpa kembang api, petasan dan terompet.
Coba bandingkan dengan peserta zikir yang dipimpin Ust. Arifin Ilham . Hanya berapa jumlah mereka dibanding dengan yang tumpah ruah di jalan dan tempat-tempat lapang dan pinggir pantai? Mana masjid-masjid yang dulu di tahun 90an masih dipenuhi oleh generasi muda Islam sambil melakukan muhasabah (evaluasi diri)? Pendek kata, pesta menyambut tahun baru benar-benar sudah merasuk kedalam lerung hati dan pikiran masyarakat dan tak terkecuali para pejabat pemerintahan sehingga menjadi sebuah pesta pora ala setan.

Sepertinya, untuk sampai ke tingkat yang sangat memprihatinkan ini, komunitas setan telah bekerja keras bertahun-tahun.Akhirnya, mereka berhasil juga menjerumuskan masyarakat Muslim Indonesia ini ke dalam pesta ala mereka. Ilustrasi berikut ini mungkin bisa membantu kita untuk memahami kenapa hampir mayoritas masyarakat Msulim di negeri ini terjerumus ke dalam jurang tipu daya setan yang di tahun 70an kita belum melihatnya separah apa yang kita saksikan pada beberapa tahun belakangan ini.
Pada suatu hari, Iblis sang bosnya setan mengumpulkan komunitasnya sambil berkata kepada mereka :
Kita harus bekerja keras agar anak-cucu Adam di Indonesia ini mau menjadi pengikut dan budak kita. Kita harus buat strategi yang jitu sehingga mereka suatu saat beramai-ramai tidak menyadari kekeliruan yang mereka lakukan dan bahkan merasakan kenikmatannya dan mengira itu adalah suatu kebenaran atau sah-sah saja.

Strategi tu ialah, kita tidak mungkin memulai dengan melarang mereka ke masjid-masjid, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, belajar Islam… Kita tidak mungkin melarang mereka berzikir dan membangun hubungan dengan Allah dan nabi mereka Muhammad….. Kalau ini yang kita lakukan, kita akan kehabisan energy dan mereka tidak mungkin dapat dikalahkan…
Sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke masjid pada saat tertentu seperti hari jumat, iedul fitri dan iedul adh-ha.. Di tengah-tengah itu, dorong mereka agar menggunakan syahwat harta, tahta dan wanita. Bagi yang tidak kebagian, dorong syahwat pesta pora dan ingin bersenang-senang.Nah, malam tahun baru masehi adalah waktu yang paling pas untuk memobilisasi mereka terjerumus ke dalam perangkap kita.
Pada dasarnya, kata Iblis lagi; sibukkan kaum Muslimin di negeri ini dengan hal-hal yang tidak bermutu, dorong mereka untuk menghabiskan waktu dan uang pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan bahkan sampai ke tingkat mubazir, seperti terompet, petasan dan kembang api. Kalau kita sudah berhasil menciptakan kondisi seperti itu, berarti kita sudah menang dan mereka sudah menjadi saudara-saudara kita. (QS.Al-Isra’ : 27).

Agar strategi kita kuat dan berpengaruh jangka panjang, kita perlu meningkatkan kinerja. Berbagai daya tarik perlu diciptakan. Berbagai alternatif perlu ditawarkan dan berbagai langkah perlu dijalankan. Di antaranya :

Upayakan mereka hidup konsumtif dan hidup dalam berhutang dan berhutang (kredit dan kredit)…
Dorong mereka bekerja keras untuk mencari uang sepanjang hari, kalau perlu sampai larut malam dan buat alasan kerja itu ibadah… Kalau bisa, dorong mereka bekerja 10 -124 jam perhari, 6-7 hari perpekan dan begitulah sepanjang tahun…
Bangun angan-angan dan janji-janji kosong dalam benak mereka untuk jadi orang kaya, punya uang banyak, rumah besar, kendaraan mewah, anak-anak harus sekolah di sekolah-sekolah mahal. (QS.Annisa’ : 120 dan Al-Isra’ : 64)
Jangan sampai mereka punya waktu yang cukup untuk anak-anak dan istri-istri mereka, dengan alasan bekerja keras untuk membahagiakan mereka…Demikian juga upayakan agar tidak ada waktu silaturtahmi dengan orang tua dan karib kerabat mereka dengan alasan sedang sibuk meniti karir dan mencapai kebebasan financial….

Pokoknya, buat mereka seakan-akan sangat sibuk dengan urusan yang besar-besar… Bangun dalam diri mereka kebanggaan pada fasilitas hidup dunia, seperti mobil, rumah, handphone dan berbagai perangkat lainnya.. Dorong gengsi mereka sebesar-nya terhadap aspek materil sehingga mereka menjadi orang-orang yang sombong…

Untuk itu, lalaikan mereka dengan berbagai bentuk hiburan seperti musik, video, sinetron, film, party dan sebagainya… Dengan demikian, mereka akan menjadi orang yang lalai mengingat Allah dan berorientasi duniawi dan tidak ingat lagi kematian dan akhirat…

Terkait wanita wanita Muslimah, rangsang mereka untuk keluar rumah dan meninggalkan anak-anak mereka., baik dengan alasan bekerja maupun dakwah, shopping atau arisan (silaturrahmi). Kembangkan dalam pikiran mereka semangat kompetisi tdiak sehat dengan kaum pria… Ajarkan kepada mereka berbagai fashion dan teknis kecantikan fisik kendati harus merubah jenis kelamin mereka sendiri (QS. Annisa’ : 119).

Ajarkan mereka untuk selalu tidak puas pada pemberian suami mereka, baik terkait dengan harta maupun dengan nafkah batin. Pokoknya, buat mereka sibuk sesibuknya sehingga tidak ada waktu untuk melayani suami dan merawat anak-anak mereka secara sempurna.. Dengan demikian, rumah tangga dan anak-anak mereka dijamin berantakan….
Inilah tugas kalian… Inilah tugas kalian… inilah tugas kalian, kata sang Iblis.. Mendengar perintah tersebut, para setan serentak menjawab : Oke Boss… Kami akan lakukan… Lalu Iblis berkata : Apa bukti kalian berhasil? Salah satu setan senior menjawab : Lihat saja nanti saat menyambut tahun baru masehi… Bila mayoritas kaum Muslim tumpah ruah sambil berpesta pora ala kita dalam menyambut tahun baru masehi dan tidak ingat lagi sholat, tidak ingat lagi Allah, bahkan tokoh-tokoh dakwahnya sudah pada ikutan, saat itulah misi kita berhasil (QS.Al-Hijr : 39 -42)

Saudaraku… Ini hanyalah ilustrasi, namun faktanya mungkin lebih dari itu. Untuk itu, waspadalah selalu terhadap langkah dan tipudaya setan, karena tipu dayanya sangat licik dan membahayakan kehidupan dunia dan akhirat kita. Allah berfirman :

يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (27) وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آَبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (28)

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.(27)

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui? (28) (QS. Al-A’raf : 27 -28) Allahul Must’aan…

sumber: www.eramuslim.com